Sudah lebih dari 17 tahun lamanya saya berendam dan berbasah ria dibidang Piping Stress Engineering ini, paling tidak jika dihitung sejak mulai kerja di IKPT dulu, tahun November 1990, belum lulus kuliah padahal.

Selama itu pula, saya sendiri sebenarnya suka bingung jika ternyata nggak banyak yang tahu saya itu kerjanya apaan di kantor.

Waktu kenalan sama Istri saya yang saat ini, saya juga bingung menjelaskan apa sih kerjaan saya.

Nggak banyak memang yang tahu. Kecuali segelintir manusia yang biasa bekerja di Perusahaan Konsultan Engineering yang khusus me-rancang Pabrik Pupuk, Minyak dan Pabrik pembuat Gas. itu pun dengan catatan kerjanya memang bersentuhan dengan piping.

Sampai sekarang pun tak ada bedanya. Bahkan di Inggris pun begitu. Nggak ngerti blass.

Saya sih oke-oke aja. Nggak ngerti juga ndak apa-apa. Yang penting dapat kerjaan dan gajiny bisalah buat hidup di London sekeluarga, sambil beramal.

Istri saya juga sampai sekarang, nggak begitu mudeng apa kerjaan saya, sehingga kalau ada temennya yang nanyain apa kerja laki lu di Inggris, bingung doi. Jawaban paling gampang: kerja di perusahaan Minyak.

Penjelasan singkatnya mungkin begini: Lihat gambar bawah.

contoh.jpg

Didalam sebuah Pabrik apa saja deh, baik Pabrik buat bikin Pupuk Urea, atau pabrik yang bikin Tabung Gas buat masak, atau yang lebih keren lagi bikin LNG untuk bahan bakar Power Plant, atau juga di Pabrik yang mengolah sumber panas bumi menjadi pembangkit listrik, selalu ada sistem perpipaan yang menghubungkan atau membawa gas, minyak, pupuk, atau air panas, dari satu tempat ke tempat lain.

Gas, Minyak atau air panas tadi dibawa dari, misalnya Tanki Minyak, ke sebuah Pressure Vessel (Bejana Tekan) melalui proses pemompaan atau menggunakan pompa atau mengalir karena adanya perbedaan tekanan.

Media yang digunakan untuk mengalirkan gas atau minyak tadi, agar bisa sampai ke tempat tujuan untuk seterusnya diolah, adalah menggunakan PIPA. Seperti bisa dilihat digambar diatas.

Pipa tadi tersambung secara erat dengan pompa, dengan Tanki tadi, dan juga dengan Pressure Vessel tadi.

Secara alamiah, jika sebuah besi sepanjang 1 meter, kita pegang pada satu ujung nya, sedangkan ujung yang lain diberi api atau dipanaskan, maka lama-kelamaan kita akan merasakan panasnya.

Ada perpindahan panas dari titik yang kena api tadi ke tempat yang kita pegang.

Perambatan panas itu mempunyai laju yang mengakibatkan besi tadi memanjang. Lajunya memang nggak besar dan susah kelihatan sama mata, misalnya hanya 5 milimiter untuk setiap 1 meter.

Pipa, yang didalamnya mengalir uap panas, atau minyak yang kental dan panas, atau gas yang dingin, akan bereaksi serupa itu.

Jika pada contoh besi tadi kita pegang, maka akan terasa panasnya, palign reaksi kita adalah melepas kan besi tadi.

Tapi, Pipa, karena sudah diikat erat pada tanki di satu ujungnya, dan diikat atau disambung ke Pompa di ujung yang lainnya, maka sang pipa tidak bisa lepas.

Alhasil, sang Pipa akan meneruskan pemuaian atau pertambahan panjang tadi ke pompa dan ke pressure vessel tadi.

Pada saat itu, ada dua kejadian:

  1. Pipa akan memberikan gaya atau force terhadap pompa dan terhadap tanki tadi.
  2. Tanki dan Pompa pasti juga akan memberikan perlawanan karena dia tidak mempunyai lagi tempat untuk berlari alias sudah dipaku mati pada posisinya di pondasi

Kita tahu bahwa setiap benda mempunyai batas kemampuan menerima gaya atau menerima beban atau menerima panas.

Jika melebihi batas kemapuan dia, patah lah dia.

Nah, tugas saya dan para Stress Engineer lainnya adalah, secara singkat, mengusahakan baik pipa, pompa, dan tanki akan dapat bekerja dengan tenang tanpa mengalami kepatahan atau mengalami kelebihan tegangan, selama operasinya.

Banyak cara bisa dilakukan.

Yang utama adalah membuat si pipa mampu menahan beban dan tegangan yang ditimbulkan, dengan cara mengalihkan perpanjangan akibat panas tadi ketempat lain yang bisa menerima tanpa masalah.

Kita tahu bahwa didalam alam ini tidak ada yang hilang. Yang ada hanyalah berpindah tempat. Ada hukum keseimbangan dan kekekalan energi.

Demikian juga sang pipa. Karena di aliri Uap Panas, maka dia akan merenggang, sedangkan pompa atau pressure vessel tempat dia ter-pantek, nggak mau menerima renggangan dia, ataupun jika si pompa terpaksa menerima dengan resiko pecah pompanya, maka renggangan tadi mesti dicari jalan tempat dia bisa memanjang tanpa merusak yang lain.

Sehingga dibuatlah dia seflexible mungkin sehingga bisa melepaskan perpanjangan akibat panas tadi.

Upaya-upaya itulah, ditambah dengan upaya untuk memastikan bahwa si pipa bisa menjalankan tugasnya mengalirkan upa panas, minyak atau gas dengan aman dan lancar, adalah tugasnya seorang Piping Stress Engineer.

Perhitungan yang dilakukan adalah umumnya dengan menggunakan bantuan Software CAESAR II atau bisa juga AUTOPIPE.

Dengan demikian, tugas atau pekerjaan sehari-hari Piping Stress Engineer itu adalah:

  1. Membuat Stress Sketch dari Sistem Pipa yang akan dihitung, kemudian melengkapi dengan segala macam accessories yang diperlukan, seperti Berapa Tekanan dan Temperature dari fluida yang mengalir, berapa berat jenis nya, apa material pipa nya, apakah memakain pembungkus (insulation) atau tidak, apa jenis insulasi nay, tebal nya berapa, berapa juga tebal pipa nya, lihat di ASME B31.3 Basic Allowable Stress untuk kondisi tertentu, serta perhitungan nantinya menggunakan Case apa saja.

    Untuk membuat Stress Sketch itu, dia mesti melihat atau merujuk ke banyak dokument, seperti Gambar Utama Piping (General Arrangement Piping), Piping 3D Model, Piping Material Specificaition, Line List, P&ID, dan lain sebagainya.

  2. Meng-input ke CAESAR II atau AUTOPIPE hasil gambar yang dia buat di Stress Sketch tadi, kemudian menganalisa, dan memastikan bahwa sistem pipa tadi memenuhi persyaratan atau comply dengan ASME B31.3 atau B31.1.
  3. Kemudian mengecek besarnya gaya yang menimpa Nozzle Pompa, Tank, atau Equipment dengan Allowable dari Vendor atau dari Code tertentu. Jika belum memenuhi kriteria, lakukan modifikasi, robah konfigurasi, input lagi dan di process lagi.

    Begitu seterusnya, sampai memenuhi kriteria dari Code dan Manufacturer Allowable. Jika belum juga bisa, kerja terus, hitung terus, sampai botak..he…he..becanda.

    Biasanya kalau hitungannya sulit, seperti Pipa disekitar Kompressor Udara, nah itu baru bisa bikin ngebul kepala alias puyeng.

  4. Jika sudah beres dan aman dan memenuhi Code, maka baru langkah selanjutnya menentukan jenis Pipe Support yang menumpu sang pipa tadi. Dihitung pula kekuatan pipa jika duduk di Besi baja, apa nggak mblesek dia, apa perlu di tambahi pelapis alias Wear pad.
  5. Selanjutnya, bikin report ke Civil Structural untuk ngasih tahu mereka berapa Load di titk tumpuan yang menggunakan Civil Structural, biar mereka bisa ngitung kekuatannya.
  6. Juga ngasih tahu ke Piping Design mengenai jenis pipe support yang kita maui dan dimana lokasinya, tentu saja dalam bentuk dokument resmi, yang perlu persiapan.
  7. Semua kerjaan tadi, plus tambahan dalam bentuk hitungan lain-lain, menjadikan irama kehidupan seorang Piping Stress Engineer berbeda setiap harinya.

    Seorang Piping Stress Engineer berhak dan harus mengatakan bahwa piping lay out tidak bisa seperti begini, tapi mesti begitu, tak pedulli ada yang tersungging.

    Bahkan seorang Project Manager pun tidak bisa mematahkan analisa dan keputusan Piping Stress Engineer. Jika pun coba-coba berani, paling nanti mundur lagi dan menyerahkan sepenuhnya kepada sang Stress Engineer.

    Karena tingkat kesulitannya dan posisi nya yang serba memutuskan itulah, maka gajinya, hmm, agak tinggian dikit lah dibanding kan yang lain.